DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I Manusia Keseragaman dan Kesederajatan
A. Pendahuluan
B. Keseragaman Manusia
C. Manusia sebagai Subjek
dan Objek
D. transformasi Budaya dan
Sasaranyya.
BAB II Faktor-faktor pengaruh keseragaman dan kesederajatan manusia
A. Pengetahuan yang
positif dan produktif.
B. Keadilan Manusia dan
Keadilan Tuhan
C. Melestarikan
Keseragaman dan kesederajatan
D. Masalah keseragaman dan kesederajatan
BAB III Penutup
Kesimpulan dan Saran
Daftar Pustaka
KATA PENGANTAR
Dalam Undang-Undang NO. 2 Tahun 1989 tentang system
pendidikan Nasional, bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kepribadian, mandiri serta bertanggunga jawab.
Keseragaman
manusia dan Kesederajatan merupakan masalah yang sangat rumit, salah satu
pandangan filsafat mengatakan bahwa manusia makhluk monodualis jiwa raga, dari
aspek jiwa manusia memiliki cipta, rasa, dan karsa sehinga dalam tingkah
lakunya mampu mempertimbangkan. Nilai-nilai yang terkandung dalam keseragaman
dan kesederajatan manusia akan membawa manusia pada potensi sebagai makhluk
yang piling sempurna, dengan keistimewaan manusia menyebabkan manusia perlu
keseragaman dan kesederajatan agar dapat memikul amanah sebagai kholifah yang
bermoral dimuka bumi ini.
Perbedaan
dari kelompok masyarakat satu dengan kelompok masyarakat yang lain ini akan
menyebabkan lemahnya mental dalam kehidupan sehari-hari oleh karena itu,
manusia dilengkapi oleh potensi-potensi yang berupa kekuatan fisik, potensi
mental meliputi akal bentuknya,kelebihan akal fikirnya, kewajiban berbakti
dengan Tuhan dan potensi berupa qolbu hal ini menjadikan manusia bermoral,
merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran Tuhan secara spiritual.
Surakarta,Oktober 2009
Penulis
BAB 1
MANUSIA KESERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN
A. PENDAHULUAN
Masalah keseragaman dan kesederajatan
manusia sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari hal ini erat kaitanya
dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia yang bermacam jenisnya dan
bentuknya, mereka menyadari bahwa keseragaman sangat diperlukan guna mencapai
masyarakat yang sehat, damai, tentram,dan aman dan untuk mewujudkan ini semua
perlu adanya pendekatan baik melalui ekternal maupn internal, Hakekat manusia
merupakan masalah yang sangat rumit maka perlu adanya kesedaran yang tinggi
untuk membentuk manusia yang bermoral mengingat potensi-potensi yang ada pada
manusia sebagai mahkluk yang semprrna,maka kesederajatan sebagai manusia akan
mudah tercapai.
B. KESERAGAMAN MANUSIA
Hakekat
manusia sama berasal dari Tuhan pencipta segala mahkluk dan alam semesta.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia diberi akal perasaan dan kehendak yang
menyatakan kesempurnaannya sebagai makhluk budaya. Makhluk yang sifatnya
menginginkan yang benar, dan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama sesuai
dengan kemampuannya. Sifat ini manusiawi semua manusia diciptakan sama memiliki
kodrat. Kesamaan tersebut menunjukan eksistensiuniversal manusia dimana saja,
oleh karena itu hakekat manusia itu sama. Namun dalam menhadapi lingkungan alam
dan social manusia tadak hanya mewujudkan kesamaan tetapi juga ketidaksamaan
dan ketidakseragaman, yang diungkapkan dalam berbagai bentuk dan corak fikiran,
perasaan, perbuatan dan hasil fikiran serta perbuatannya.
Karena manusia itu makhluk social yang
menharuskannya hidup bermasyarakat, maka corak fikiran , perasaan, dan
perbuatan yang tidak sama atau tidak seragam akan menhasilkan penilaian dan
nilai-nilai yang disatu sisi bermanfaat dan menguntungkan sedangkan dilain sisi
tidak bermanfaat dan merugikan kehidupan bersama. Untuk mengontrol corak
pikiran, perasaan dan perbuatan mana yang manusiawi dan mana yang tidak
manusiawi, manusia sebagai makhluk budaya berupaya menciptakan kesatuan
pandangan. Kesatuan pandangan merupakan kesepakatan bersamadan diakui sebagai
nilai-nilai kemanusiaan yang dijadikan pedoman hidup bersama.
C. MANUSIA SEBAGAI SUBJEK DAN OBJEK
Dalam
pengkajian masalah keseragaman, manusia menempati posisi ganda,artinya manusia
tidak hanya sebagai subjek(pelaku) tetapi juga sebagai objek (sasaran). Masalah
ini diarahkan pada :
• diri
manusia sendiri dan nilai-nilai kemanusiaan.
• hubungan manusia manusia, hubungan manusia dengan
alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan sang
pencipta.
Atas dasar terbut akan dapat dipahami sikap dan
perbuatan manusiawi dan tidak manusiawi, sesuai dengan etika pergaulan dan
sesuai dengan hokum.Beranjak dari diri manusia sendiri akan terunkap gambaran
berbagai macam pola hidup manusia untuk mencapai keseragaman dan kesederajatan,
penkajian diri manusia sendiri juga akan mengungkapkan berbagai aspek kehidupan
manusiawi. Aspek kehidupan manusiawi ini diungkapkan melalui sikap dan
perbuatan yang sesuai dengan system nilai budaya sebagai pedoman hidup, yakni
saling menyayangi, melindungi, menghargai, menguntungkan, menyenangkan, dan
membahagiakan yang dirasakan sebagai keindahan hidup.
D. TRANSFORMASI BUDAYA DAN SASARANNYA
a. Transformasi budaya
Dalam
tinjauan pendidikan dimaknakan sebagai fungsi penerus budaya tentang beberapa
hasil kehidupan maupun akumulasi budaya , tagas manusia dalam hal ini dalah
melengkapkan diri dengan material budaya agar dapat hidup dimasyarakat. Sebagai
proses untuk mengarahkan dan mengatur manusia agar dapat mentranspormasikan diri
dan dapat menerima budaya-budaya yang lain dengan menghargai nya. Diakui dalam
masyarakat yang didalam nya terdapat keragaman budaya akan sangat sulit untuk
menumukan keseragaman, namun dengan perkembangan yang ada sekarang ini
pendidikan yang brtfungsi sebagai transmisi budaya sehingga nilai- nilai budaya
dapat diselaraskan dengan norma-norma yang ada.
b. Klasifikasi Sasaran
Lingkungan
merupakan salah satu unsure dalam menentukan keseragaman dan kesederajatan.
Memahami lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman akan konsepsi
pendidikan itu sendiri, mengapa demikian ? pendidikan merupakan proses untuk
membentuk manusia menjadi manusia yang beradap, bermoral dan bertaqwa. Dari
sini manusia akan berjalan untuk menghadapi berbagai macamjenis kehidupan untuk
mencapai taraf hidup seimbang dari masyarakat satu dengan masyarakat yang lain,
mengingat manussia adalah makhluk tang paling sempurna yang diciptakan oleh
Tuhan untuk saling menyayangi,memahami,dan
menghormati satu sama lain. dimana untuk mencapai keseragaman dapat
dimulai dari :
• diri sendiri sebagai manusia
• lingkungan keluarga
• lingkungan
sekolah,kelompok,organisasi dan instansi lainnya
lingkungan
masyarakat /umum
a. diri sendiri sebagai manusia
Sebelum
melangkah lebih jauh manusia sebagai subjek( pelaku ) mampu menyesuaikan diri
sebagai manusia dalam bentuk pendekatan- pendekatan diantaranya hubungan
manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, dan hubugan terhadap
Tuhan ( agama ) terutama tentang keagamaan nya agar dapat mencetak pribadi yang
baik, pribadi yang mampu membedakan diri kita sebagai manusia dengan ciptaan
nya lain. Karna dalam diri manusia terdapat unsure-unsur yang teriri dari
jasmani dan rohani.
b. Lingkungan keluarga
keluaga merupakan linkungan pertama
bagi manusia dalam memproses prilaku, dilingkungan keluargalah
pengaruh-pengaruh akan muncul tergantung pada bimbingan dalam keluaga, karena
keluaga merupakan lembaga tertua yang bersifat informa dan kodrati. Lingkungan
keluarga berfungsi :
• membentuk dasar moral
•menanamkan dasar sosial
• mencetak pribadi yang beriman dan
bertaqwa ( agama )
c. Lingkungan Sekolah
Sekolah
sebagai lembaga pendidikan resmi dalam meyelanggarakan secara berencana,
sengaja, terarah, sistematis yang dikemas secara terprogram. Disekolah inilah
akan Nampak keseragaman dan kesederajatan manusia sebagai makhluk yang berakal,
dengan aturan atau norma-norma yang diberlakukan disekolah yang berfungsi
menyeratakan dan tidak membeda-bedakan yang satu dengan yang lainnya, misalnya
ekonomi tinggi dengan ekonomi rendah. Contohnya dalam berpakaian sekolah dan
administrasi lainya. Peranan dan fungsi sekolah ini untuk:
• membantu keluarga dalam mendidik.
• memberikan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap
secara lengkap sesuai yang dibetuhkan.
d. Lingkungan masyarakat
masyarakat
sebagai lembaga ketiga setalah lembaga pendidikan formal (sekolah ) akan
memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam proses pembentukan kepribadian
manusia.Lingkungan masyarakat berperan sebagai pematangan apa yang telah di
terima dalam lingkungan sekolah dan keluarga, kegiatan ini meliputi:
•
perkembangan rasa social dalam
komunikasi dengan orang lain
•
pembinaan sikap dan kerja sama
dengan anggota masyarakat
• pembinaan ketrampilan dan kecakapan khusus
yang belum didapat
BAB II
FAKTOR-FAKTOR PENGARUH KESERAGAMAN
DAN
KESEDERAJATAN MANUSIA
A. PENGETAHUAN YANG POSITIF DAN PRODUKTIF
a. Pengetahuan yang
Positif dan produktif
Tentukan dahulu pengetahuan dan tujuan yang
akan diproses, setelah itu tetapkan tijuan hidup serta sasaran sebagai acuan
hidup yang setiap manusia menginginkan keseragaman atau kesamaan dalam
menjalani kehidupan karena manusia itu sama derajat dan martabatnya jadi
memiliki keinginan yang sama, misi dan visi yang sama pula . tetapi untuk
memperoleh keseragaman dan kesederajatan ini memerlukan proses
tersendiri.mengingat budaya global yang sekarang ini semakin mengglobal ini
rasanya sulit bagi manusia untuk berdiri sendiri.
Kemajuan teknologi berperan dalam mengubah budaya yag terus
mengglobal, banyak alat-alat yang dibuat dibeberapa tempat sebelum menjadi
produk yang kita gunakan. Dalam waktu yang tidak lama lagi dipredisikan bahwa
tidak aka ada lagi budaaya yang murni budaya setempat, hal-hal yang berpengaruh
besar terbentuk nya budaya global
diantaranya pengunaan alat komunikasi dan elektronik seperti: televise, flim,
video, dan internet yang dapat menyebarkan suatu berita dengan cepat dan masih
banyak yang lain nya seperti munculnya organisasi dunia dibidang ekonomi
seperti :APEC, WTO, OPEC dan kebudayaan lainnya yang memicu keseragaman dan
kesederajatan manusia.
Dalam mencapai pengetahuan yang
positif akan lebih sulit dari pada pengetahuan yang negative, ini dapat kita
pelajari melalui :
•
belajar dari pengalaman diri sendiri
•
belajar dari pengalaman orang lain
• belajar dari buku, audio book dan internet
•
pergaulan yang
positif
b. Displin Diri Memproses Kesederajatan Hidup
seperti diuraikan diatas memang tidak
mudah untuk bisa disiplin dengan mengalahkan ego diri sendiri dan memelihara
kedisplinan hidup. Padahal displin diri menunjukan sikap bahwa manusia itu
rendah dan jika kita dapat mengendalikan ego kita sendiri bersrti manusia
memproses dirinya bahwa sebenarnya manusia sama derajatnya dalam kehidupannya,
ini dapat kita rasakan walaupun berbeda-beda suku,ras,budaya dan bangsa tetapi
derajat kita sama sebagai manusia. Jadikanlah disiplin diri menjadi kebiasaan
hidup kita sehari-hari maka keseragaman hidup dan kesederajatan manusia dapat
kita rasakan dengan adanya Tuhan yang menciptakan manusia.
c. Unsur-unsur yang mendorong manusia dan kesederajatannya
keseragaman
dan kesederajatan ini merupakan suatu keadaan pikiran, oleh karena itu harus
bisa dikembangkan. Seperti semua keadaan pikiran, keseragaman dan kesederajatan
akan tumbuh dari satu sebab yang pasti diantaranya :
• kepastian tujuan
Mengetahui apa tujuan manusia dalam
hidup yang akan dicapai, jika motif terhadap tujuan kita untuk mewujudkan
keseragaman dan kesederajatan sangat kuat tentunya akan memaksa seseorang
selalu mampu mengatasi kesulitan.
• keinginan
Untuk
memelihara keseragaman dan kesederajatan dalam mengejar sasaran, diperlukan
hasrat yang membara dan terus menerus dipelihara sehingga ia bisa menjadi
keinginan yang besar.
• kemandirian
Keyakinan
terhadap kemampuan diri kita sendiri untuk melaksanakan rencana serta mendorong
seseorang mencapai tujuan ini sangat diinginkan pada setiap manusia sebagai
makhluk sosial, kesadaran yang dimiliki nantinya akan membawa keseragaman,
saling meghargai satu dengan yang lainnya dan kesederajatan manusia adalah
hasil dari pola hidup yang sehat yang mampu memahami keadaan.
• pengetahuan
Bagaimana mengetahui rencana yang
mantap berdasarkan pengalaman atau pengamatan ini juga merupakan salah satu
pendorong keseragaman manusia untuk membentuk pribadi yang mampu untuk
mengambil suatu tindakan ini meliputi setrategi dan sasaran.
• kerjasama
Kerjasama degan lajur yang
positif akan cendrung mengembangkan
keuletan, ini berarti manusia mampu menerima dan mampu memberikan dengan pola
pikir yang cocok sehingga akan mudah menghadapi kesulitan yang dihadapi, proses
kerjasama ini adalah awal dari keseragaman dan bahwa manusia itu sama-sama
memiliki potensi untuk menciptakan yang terbaik.
• keimanan ( keyakinan )
Dalam
kehidupan manusia iman mempunyai kedudukan yang sangat penting, kerena
semata-mata hamper seluruh aspek kehidupan manusiadan segala yang menjadi
tindakannya selalu dilandaskan kepada iman (keyakinan, kepercayaan ). Memang
sebagian manusia ada yang tidak percaya akan adanya sesuatu yang tidak dapat
merasakannya. Bagi golongan manusia seperti itu, akan sulit menerima kehidupan.
Meraka tidak akan penah merasa puas apa yang mereka capai.
B. KEADILAN MANUSIA DAN KEADILAN TUHAN
A. keadilan manusia
setiap
manusia memiliki beberapa kebutuhan di antaranya kebutuhan tersebut ada yang
hanya dapat dipenuhi sempurna apabila berhubungan lasung dengan manusia. Dalam
hubungan itu timbul kewajiban dan hak masing-masing pihak yang sifatnya seimbang,
tidak berat sebelah. Pihak-pihak memenuhi kewajibannya dan hak nya secara
seimbang pula dan juga tidak berat sebelah atau tidak sewenang-wenang. Keadilan
manusia dalam hubungan atara sesame manusia, dan keadilan manusia itu bersifat
relative.
a. konsep adil dan rasa keadilan
adil
dalah sifat manusia, menurut artinya. “adil “artinya tidak sewenang-wenang
kepada diri sendiri maupun kepada pihak lain, pihak lain itu sendiri meliputi
anggota masyarakat, alam lingkungan, dan Tuhan sang pencipta. Jadi konsep adil
berlaku kepada diri sendiri sebagai individu, dan kepada pihak lain sebagai
anggota masyarakat, alam lingkungan, dan Tuhan sang pencipta.
Tidak sewenang-wenang dapat berupa :
• Sama ( seimbang ) nilai bobot yang tidak berbeda.
• tidak berat sebelah, perlakuan yang sama, tidak pilih kasih.
• Wajar, seperti apa adanya, tidak menyimpang, tidak lebih dan
tidak kurang.
• patut/layak, dapat diterima karena sesuai, harmonis, dan
propesional.
• Perlakuan terhadap diri sendiri, sama seperti perlakuan terhadap
pihak lain dan sebaliknya.
Dalam
konsep adil berlaku tolak ukur yang sama kepada pihak yang berbuat dan kepada
pihak yang lain terhadap kemana perbuatan itu ditujukan implikasanya, prilaku
kepada dirii sendiri seharusnya sama pula dengan perlakuan terhadap pihak lain.
Misalnya pada pakaian seragam sekolah semuanya disamakan baik itu dari ekonomi
tinggi maupun ekonomi rendah dan aturan-aturan yang berlaku baik itu dalam
lingkungan sekolah maupu dalam msyarakat, ada norma-norma yang mengatur
kehidupan manusia akan tetapi ada oknum-oknum tertentu yang tidak mematuhi
sehinga dapat menimbulkan kesenjangan social.
b. Perlakuan adil
setiap manusia dapat melihat
perlakuan adil itu dari sudut pandang masing-masing, sehingga tanggaapannya
mungkin sama dan mungkin juga tidak sama antara satu dengan yang lainnya.
Kemungkinan ketidaksamaan itu terletak pada nilai bobot kualitas perlakuannya berbeda, maka timbullah gradasi
peerlakuan dari perlakuan adil keperlakuan yang kurang adil sampai keperlakuan
yang tidak adil. Banyak contoh yang dapat kita ambil dari prilaku adil, dalam
kehidupan sehari-hari kita telah melakukan ibadah menurut keyakinan nya
masing-masing ini juga merupakan penyataan adil kita terhadap waktu dalam
artian kita dapat membagi waktu dengan baik karena perlakuan adil itu bermula
dari kesadaran kita sendiri.
c. Prilaku tidak adil
sebaliknya,
apabila perlakuan manusia tidak disadari oleh rasa keadilan yang akan terjadi
adalah perlakuan tidak adil. Akibat perlakuan sewenang-wenang adalah
penderitaan dan ketidakpastian kehidupan manusia menjadi tidak menentu, tidak
tentram, dan gelisah bahkan mungkin kematian. Banyak contoh perlakuan tidak
adil baik yang terungkap dalam kehidupan nyata maupun dalam karya cipta.
Pada
tanggal 8 januari 1987, dalam harian suara karya Jakarta diberitakan
tentang perlakuan tdak adil seorang presiden terhadap rakyatdan pejabat tinggi
negaranya. Presiden yang dimaksud adalah diktato jean Bedel Bokasa,
sebagaimana dikutip sebagai berikut:
Presiden Afrika tengah jean bedel
bokasa ketika masih berkuasa memerintahkan membunuh seorang wanita bernama
Monique yimale, karena wanita ini memiliki empat buah dada.
Keadilan
manusia yang terjadi dalam hubungan antara sesama manusia dapat dibedakan
menjadi 3 ( tiga) macam , yaitu keadilan koordinatif, subordinatif, dan
superordinatif. Ketiga macam keadilan ini mempuyai arti tersendiri diantaranya:
• keadilan koordinatif
Keadilan koordinatif terjadi dalam
hubungan antara sesama anggota masyarakat (anggota kelompok ). Dalam hunungan
tersenut kedudukan pihak-pihak tersebut setara, sejajar, dan tidak melebihi
sata sama lain. Menurut prof. Djojodigoeno (1956) hubungan koordinatif
dibedakan dua tipe yaitu: hubungan pamrih dan hubungan pengutuban. Dalam
hubungan pamrih tiap pihak dibebani kewajiban dan diberi hak yang seimbang, dan
harus saling memenuhi kewajiba untuk memperoleh hak nya. Ukuran keadilan
biasanya sudah ditetapkan berupa nilai atau harga yang sama antara kewajiban
dan haknya
• keadilan subordinatif
Keadilan
subordinatif terjadi dalam hubungan dengan penguasa atau warga negara dengan
pemerintah. Anggota rakyat telah memilih dan mengangkat pemimpinnya sebagai
penguasa, penguasa wajib memenuhi tuntutan rakyat secara wajar, berarti adil.
Apabila penguasa menjadi dictator dan memerintahkan semaunya sendiri, ini tidak
adil. Keadilan subordinate dapat terjadi karena rakyat telah bersedia
melaksanakan kewajiban atau pengabdian terhadap negara, tentunya saling
memahami sebagai penguasa dan rakyat atas tugasnya atau kedudukannya
masing-masing.
• keadilan superordinstif
Keadilan
superordinatif terjadi dalam hubungan penguasa dengan rakyat atau pemerintah
dengan warga negaranya,dalam hubungan superordinatif inisiatif pelaksanaan
memenihi kebutuhan rakyat dimulai dari penguasa terhadap rakyat. Pemenuhan
kebutuhan rakyat oleh penguasa merupakan realisasi janji penguasa terhadap
rakyat ketika akan diangkat sebagai penguasa, apabila penguasa telah
melaksanakan program dengan baik mulai dari pembangunan, kesehatan ,dan
kesejahteraan rakyat, keseragaman hidup dalam masyarakat akan tejamin dan
tingkat kesedaran manusia lebih baik sehingga nilai kesederajatan manusia mudah
di cerna dan diterima dalam kehidupan sehari-hari.
d. keadilan Tuhan
Keadilan
Tuhan terjadi dalam hubungan manusia dengan Tuhan, keadilan Tuhan bersifat
mutlak. Tuhan adalah pencipta segalanya, karena manusia itu adalah makhluk
ciptaannya sudah adil apabila dalam hubungan manusia dengan Tuhan itu manusia
harus mengabdi kepada Tuhan. Prof. Dr. Harun Nasution menyatakan bahwa keadilan
ajaran yang sangat penting dalam agama, keadilan disini adalah kehendak atau
kekuasaan Tuhan. Manusia hidup sesuai dengan kekuasaan Tuhan. Manusia bebas
mengunakan akalnya untuk mewujudkan kehendaknya baik atau pun buruk.
C. MELESTARIKAN KESERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN
• Kesadaran sebagai manusia
sebagai manusia kita sadar akan apa
yang dihrapkan oleh mesip manusia, apa bila kita dapat melestarikan keseragaman
dan kesederajatan manusia dalam
kehidupan sehari-hari tentunya akan membawa keharmonisan, perdamaian, dan
suasana yang sehat.
• Tanggung Jawbab sebagai Manusia
Seorang mau bertanggung jawab karena
ada kesadaran atau pengertian atas segala perbuatan dan akibnyab bagi diri
sediri dan bagi kepentingan pihak lain, atau bagi alam lingkungan atu bagi
Tuhan. Tanggung jawab adalah salah satu agar keseragaman dan kesederajatan
dapat menjadi cuan kita.
Atas dasr hubungn dengn pihak lain
atau alam lingkungan dan Tuhan, dapat dikenal dan diinventarisasikan beberapa
ragam tipe tanggung jwab :
• tanggung jawab kepada diri sendiri
• tanggung jawab kepda keluarga
• tanggug jawbab kepada sesame manusia
• tanggnug jawab kepada lingkungan / alam
• tanggung jawab kepada Tuhan
Tipe-Tipe ini yang nantinya membwa
manusia menuju kesadaran bahwa manusi saling membutuhkan satu sama lain.
D. MASALAH KESERAGAMAN DAN
KESEDERAJATAN
• Banyak manusia yang tahu tentang peraturan dan hukum
akan tetapi masih banyak yang belum mengetahui dan masih
banyak yang belum mempunyai kesadaran
untuk menerapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam hal ini manusia
sangat berpengaruh pada linngkungan tempat tinggalnya. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia telah
diatur dengan pancasila dan undang-undang
daras 1945 yang menjadi landasan hidup. Namun masih banyak yang belum dapat memahami dan menerapkan dalam kehidupan.
Ada beberapa factor antara lain:
1. Faktor keturunan
Faktor
yang mengatakan bahwa sifat dan bakat anak itu diturunka dari orang tuanya atau
pembawaan anak yang dibawa sejak lahir.
2. Faktor lingkungan
Faktor ini mempunyai pengaruh yang
sangat besar terhadap kepribadian anak. Faktor lingkugan itulah dari
pengalaman-pengalaman yang memperkaya pengetahuan manusia.
3. Faktor diri (Self)
Merupakan
factor yang berasal dari diri sendiri. Faktor ini dapat berupa motivasi dari
diri manusia sendiri berupa hal-hal yag unik dari manusia sendiri,
misalnya:kecerdasan yang berbeda, sikap yang berbeda, watak atau tabiat, dan
lain-lain.
4. Faktor religi.
Keyakinan
terhadap pencipta membuat manusia berusaha untuk memahami perbedaaan, serta
menyeimbangkan factor-faktor diatas. Sehingga, tercapailah kesederajatan dalam
hidup.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Keseragaman
dan kesederajatan merupakan keinginan dan tujuan setiap manusia dalam menjalani
kehidupan agar tercipta suasana yang harmonis, aman, tentram, dan damai. Menciptakan
suasana yang indah adalah tujuan kita bersama, Tanggung
jawab manusia untuk melakukan introspeksi diri dalam menjalani kehidupannya,Tanpa
keseragaman dan kesederajatan alangkah meruginya kita sebagai mnusia yang
didalam nya terdapat potensi-potensi yang tidak dimiliki ciptaan Tuhan selain
manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Alisyahbana, Sultan Takdir, prof. Dr. S.H. 1981. Kebudayaan dan peradaban.
2000,
Pendidikan, kebudayaan madani Indonesia, Bandung:Remaja rosda karya .
HAR Tilaar, 1999, pendidikan, kebudayaan dan masyarakat
madani Indonesia, strategi Reformasi pendidikan Nasional, Bandung: Remaja rosda
karya.
Koentjaraningrat,
prof. Dr. 1982, kebudayaan, mentalitas dan pembangunan. penerbitGramedia.
Jakarta.
Darmono, Sapardi Djoko, prof. Dr.
1981. Tanggung Jawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar