BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang Masalah
Suatu proses belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah
laku.Berhasil tidaknya proses belajar mengajar tergantung dari faktor-faktor
dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar siswa. Faktor dan kondisi yang
mempengaruhi proses belajar sesungguhnya banyak sekali macamnya, baik yang ada
pada diri siswa sebagai pelajar,pada guru sebagai pengajar,metode mengajar,bahan
materi pelajaran harus diterima siswa, maupun sarana dan prasarana.
1.2. Identifikasi Masalah
Pokok permasalahan penelitian ini adalah kesulitan-kesulitan yang
dihadapi siswa dalam belajar akuntansi. Untuk mempelajari materi akuntansi
diperlukan cara dan metode belajar yang berbeda bila dibandingkan dengan ilmu
sosial lainnya.
Faktor kesulitan belajar yang bersumber dari siswa,misalnya motivasi, kemauan,perhatian,metode belajar yang kurang tepat,waktu belajar yang terbatas,kurangnya sumber belajar yang diperlukan.Disamping itu metode mengajar yang kurang tepat serta kurang mampunya siswa menerima materi pelajaran dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan siswa belajar akuntansi.
Faktor kesulitan belajar yang bersumber dari siswa,misalnya motivasi, kemauan,perhatian,metode belajar yang kurang tepat,waktu belajar yang terbatas,kurangnya sumber belajar yang diperlukan.Disamping itu metode mengajar yang kurang tepat serta kurang mampunya siswa menerima materi pelajaran dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan siswa belajar akuntansi.
1.3. Perumusan Masalah
a) Faktor-faktor kesulitan apakah yang dihadapi siswa dalam belajar akuntansi.
b) Bagaimana pemecahannya agar kesulitan belajar siswa dapat di atasi.
1.4. Tujuan
Tujuan umum untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui proses belajar mengajar (siswa,guru,materi pelajaran dan fasilitas)secara tepat guna di sekolah.
1.5. Kegunaan
a) Memberi sumbangan terhadap ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan mata pelajaran akuntansi.
b) Sebagai pedoman dalam mengatasi dan menanggulangi permasalahan yang timbul dalam pengajaran akuntansi.
c) Memperbaiki proses belajar mengajar terutama pada pelajaran akuntansi sehingga dapat memperkecil kesulitan yang dihadapi siswa.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Kesulitan Belajar
Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlansung
secara wajar. Kadang – kadang lancar, kadang – kadang tidak, kadang – kadang
dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang terasa amat sulit. Dalam hal
semangat terkadang semangat tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk
mengadakan konsentrasi. Dalam hal dimana anak didik/ siswa tidak dapat belajar
sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan
belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelgensi yang rendah
(kelainan) mental akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor – faktor non
intelgensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan
belajar.
Macam – macam kesulitan belajar dapat dikelompokkan menjadi empat bagian :
1. dilihat dari jenis kesulitan belajar :
- ada yang berat
- ada yang sedang
2. dilihat dari bidang studi apa yang dipelajarinya :
- ada yang sebagian bidang studi dan
- ada yang keseluruhan bidang studi
3. dilihat dari sifat kesulitannya :
- ada yang sifatnya permanen/ menetap dan
- ada yang bersifat hanya sementara
4. dilihat dari faktor penyebabnya
- ada yang karena faktor intelgensi dan
- ada yang karena faktor non intelgensi
2. Faktor – Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor – faktor yang menyebabkan kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu :
1) Faktor intern
a) Sebab Yang Bersifat Fisik :
1. Karena sakit
Seseorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah.
2. Karena kurang sehat
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, pikiran terganggu.
3. Sebab karena cacat tubuh
- Cacat tubuh yang bersifat ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, ganguan psikomotor.
- Cacat tubuh yang tetap seperti buta, tuli, isu, hilang tangannya dan kakinya. Bagi golongan yang serius, maka harus masuk pendidikan yang khusus seperti
b) Sebab – Sebab Kesulitan Belajar Karena Rohani :
1. Intelgensi
Anak yang IQ-nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan apa yng dihadapi.
2. Bakat
Bakat adalah potensi/ kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir
3. Minat
Tidak adanya minat seseorang anak terhadap sesuatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar.
4. Motivasi
Motivasi sebagai faktor yang inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar
5. Faktor kesehatan mental
Dalam beljar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga menyangkut segi kesehatan mental dan emosional.
6. Tipe – tipe khusus seorang pelajar
- Seorang yang bertipe visual, akan lebih cepat mempelajari bahan – bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar.
- Anak yang bertipe auditif mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara.
- Individu yang betipe motorik, mudah mempelajari yang berupa tulisan – tulisan, gerakan – gerakan dan sulit mempelajaribahan yang berupa suara dan penglihatan.
2) Faktor Orang Tua
a) Faktor Keluarga
1. Faktor Orang Tua
a. Cara mendidik anak
Orang tua yang tidak / kurang memperhatikan pendidikan anak – anaknya, mungkin acuh tak acuh, tidak memperhatikan kemajuan belajar anak –anaknya
b. Hubungan Orang Tua Dan Anak
Sifat hubungan orang tua dan anak sering dilupakan. Yang dimaksud hubungan adalah kasih sayang penuh pengertian atau kebencian, sikap keras,acuh tak acuh, memanjakan dan lain – lain.
c. Contoh / bimbingan dari orang tua
Orang tua merupakan contoh terdekat dari anak – anaknya. Segala yang diperbuat orangtua tanpa disadari akan ditiru oleh anaknya.
2. Suasana rumah / keluarga
Suasana keluarga yang sangat ramai/ gaduh, tidak mungkin anak dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu terganggu konsentrasinya, sehingga sulit untuk belajar.
3. Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam :
a. keadaan yang kurang/miskin
b. ekonomi yang berlebihan
b) Faktor Sekolah
yang dimaksud sekolah, antara lain adalah ;
1. Guru
Guru dapat menjadi sebab kesulitan belajar, apabila :
a. Guru tidak berkualtas
b. Hubungan guru dengan murid kurang baik
c. Guru – guru yang menuntut pelajaran diatas kemampuan anak
d. Guru tidak cakap dalam uasaha diagnosis kesulitan belajar
e. Metode pengajaran guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar
2. Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat pratikum..
3. Kondisi Gedung
Terutama ditujukanpada ruan kelas / ruangan tepat belajar anak.
4. Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik misalnya :
a. Bahan – bahannya terlalu tinggi
b. Pembagian pelajaan tidak seimbang
c. Adanya pendataan materi
5. Waktu sekolah dan disiplin kurang
c) Faktor Mass Media Dan Lingkungan Sosial
1. Faktor mass media meliputi : bioskop, TV, surat kabar, majalah, buku – buku komik yang ada di sekeliling kita.
2. Lingkungan sosial
a. Teman bergaul
b. Lingkungan tetangga
c. Aktivitas dalam masyarakat
3. Cara mengenal murid yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar, misalnya :
1. menunjukkan prestasi yang rendah dibawah rata –rata yang dicaai oleh kelompok kelas.
2. hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah
3. lambat dalam melakukan tugas – tugas kelas
4. menunjukkan sikap yang kurang wajar
5. menunjukkan tingkah laku yang berlainan
Dari gejala yang tampak itu, guru bisa menginterpretasi bahwa ia kemungkinan mengalami kesulitan belajar. disamping melihat gejala – gejala yang tampak, guru pun bisa mengadakan penyeledikan antara lain dengan :
1. Obsevasi : cara memperoleh data dengan lansung mengamati terhadap objek.
2. Interview : cara mendapatkan data dengan cara wawancara lansung terhadap orang yang diselidiki atau orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki.
3. Tes diagnosis : suatu cara mengumpulkan data dengan tes.
4. Dokumentasi : cara mengetahui sesuatu dengan melihat catatan – catatan, arsip – arsip, dokumen – dokumen yang berhubungan dengan orang yang diselidiki.
4. Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Langkah – langkah yang yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu :
1) Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar, diperlukan banyak informasi.
2) Pengolahan data
Data yang telah terkumpul dari kegiatan tahap pertama tersebut, tidak ada artinya jika tidak diadakan pengolahan secara cermat.
3) Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan penentuan mengenai hasil dari pengolahan data.
4) Prognosis
Prognosis artinya ramalan. Apa yang telah ditetapkan dalam tahap diagnosis, akan menjadi dasar utama dalam menyusun dan menetapkan ramalan mengenai apa yang harus diberikan kepadanya untuk membantu mengatasi masalahnya.
5) Treatment (perlakuan)
Perlakuan disini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah pada tahap prognosis tersebut.
6) Evaluasi
Evaluasi disini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yan telah diberikan diatas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan, atau bahkan gagal sama sekali.
KESULITAN
BELAJAR SISWA DAN BIMBINGAN BELAJAR
Oleh
: Akhmad Sudrajat
A. Kesulitan Belajar.
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita
dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa
yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa
mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru
dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa
ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil
belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga
pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di
bawah semestinya.
Kesulitan belajar
siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder;
(b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow
learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan
diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
- Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
- Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
- Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
- Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
- Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Siswa yang
mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan
tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek
psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang
merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
- Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
- Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
- Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
- Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
- Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
- Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Sementara itu,
Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami
kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai
tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar
apabila :
- Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
- Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
- Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)
Untuk dapat
menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan
belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan
kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami
kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau
kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok;
(3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4)
kepribadian.
1. Tujuan
pendidikan
Dalam keseluruhan
sistem pendidikan, tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan
yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap
kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan
pembelajaran. Siswa yang dapat mencapai target tujuan-tujuan tersebut dapat
dianggap sebagai siswa yang berhasil. Sedangkan, apabila siswa tidak mampu
mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar.
Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan pencapaian tujuan pembelajaran,
maka sebelum proses belajar dimulai, tujuan harus dirumuskan secara jelas dan
operasional. Selanjutnya, hasil belajar yang dicapai dijadikan sebagai tingkat
pencapaian tujuan tersebut. Secara statistik, berdasarkan distribusi normal,
seseorang dikatakan berhasil jika siswa telah dapat menguasai
sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang harus dicapai. Namun jika
menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan
menggunakan penilaian acuan patokan, seseorang dikatakan telah berhasil dalam
belajar apabila telah menguasai standar minimal ketuntasan yang telah
ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM). Sebaliknya, jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka
siswa tersebut dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar. Teknik yang dapat
digunakan ialah dengan cara menganalisis prestasi belajar dalam bentuk nilai
hasil belajar.
2. Kedudukan dalam
Kelompok
Kedudukan seorang
siswa dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya.
Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi
belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya,
rata-rata prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka
8, diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, nilai yang
dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan
dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat
menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa
yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan.
Secara statistik,
mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah mereka yang menduduki 25 %
di bawah urutan kelompok, yang biasa disebut dengan lower group.
Dengan teknik ini, kita mengurutkan siswa berdasarkan nilai nilai yang
dicapainya. dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, sehingga siswa
mendapat nomor urut prestasi (ranking). Mereka yang menduduki posisi 25 % di
bawah diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Teknik lain ialah dengan
membandingkan prestasi belajar setiap siswa dengan prestasi rata-rata kelompok.
Siswa yang mendapat prestasi di bawah rata – rata kelompok diperkirakan pula
mengalami kesulitan belajar.
3. Perbandingan
antara potensi dan prestasi
Prestasi belajar
yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat potensinya, baik yang
berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dan
seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Sebaliknya,
siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh prestasi
belajar yang rendah pula. Dengan membandingkan antara potensi dengan prestasi
belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana dapat
merealisasikan potensi yang dimikinya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan
belajar, apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang
dimilikinya. Misalkan, seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan psikologis
diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120, termasuk kategori
cerdas dalam skala Simon & Binnet. Namun ternyata hasil belajarnya hanya
mendapat nilai angka 6, yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang
dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. Contoh di atas
menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar, yang biasa disebut dengan
istilah underachiever.
4. Kepribadian
Hasil belajar yang
dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. Setiap
proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian.
Siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian
tertentu, sesuai dengan tujuan yang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Siswa diakatan mengalami kesulitan belajar, apabila menunjukkan pola-pola
perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya, seperti : acuh tak
acuh, melalaikan tugas, sering membolos, menentang, isolated, motivasi lemah,
emosi yang tidak seimbang dan sebagainya.
B. Bimbingan Belajar
Bimbingan
belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan
dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh
melalui langkah-langkah sebagai berikut
1.
Identifikasi kasus
Identifikasi kasus merupakan upaya untuk
menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson
dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat
dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan
belajar, yakni :
- Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.
- Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
- Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
- Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.
- Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial
2. Identifikasi Masalah
Langkah ini merupakan upaya untuk memahami
jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks Proses
Belajar Mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a)
substansial – material; (b) struktural – fungsional; (c) behavioral; dan atau
(d) personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dkk. telah
mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang
disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk
mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani
dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan;
(e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan
moral; (h) hubungan muda-mudi; (i) keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu
senggang.
3.
Diagnosis
Diagnosis
merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang
melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar
faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi
input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian
faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar
siswa, yaitu : (a) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa
itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat,
kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (b) faktor
eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya
faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.
4. Prognosis
Langkah ini untuk
memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi
serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan
cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan
ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu
dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten
untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi.
5.
Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)
Jika jenis
dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem
pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau
guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau
guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek
kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau
guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih
kompeten.
6. Evaluasi dan
Follow Up
Cara manapun yang
ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi
dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment)
yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.
Berkenaan dengan
evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan
layanan bimbingan belajar, yaitu :
- Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;
- Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan
- Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.
Sementara itu, Robinson dalam Abin
Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan
efektivitas layanan yang telah diberikan, yaitu apabila:
- Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
- Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
- Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
- Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
- Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
- Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
- Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya
Sumber bacaan :
Abin
Syamsuddin, (2003), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosda
Karya
Prayitno
dan Erman Anti, (1995), Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta :
P2LPTK Depdikbud
Prayitno
(2003), Panduan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdikbud
Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah
Seri
Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah,(1995), Pelayanan
Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU )
Buku IV, Jakarta : IPBI
Winkel,
W.S. (1991), Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta: Gramedia
MASALAH KESULITAN BELAJAR
Kesulitan Belajar
dan Alternatif Pemecahannya
Setiap
siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja
akademik (Academic Performance) yang memuaskan. Namun dari kenyataan
sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan
intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasan dan pendekatan
belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa
lainnya.
Sementara
itu, penyelenggaraan pendidikan disekolah-sekolah kita pada umumnya hanya
ditunjukkan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata sehingga siswa yang
berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian,
siswa-siswa yang berkategori “diluar rata-rata” itu (sangat pintar dan sangat
bodoh) tidak mendapat kesempatan yang memadahi untuk berkembang sesuai dengan
kapasitasnya. Dari sini kemudian timbullah apa yang disebut kesulitan belajar
(learning difficulty) yang tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja,
tetap juga dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi.
1.
Faktor-faktor kesulitan belajar
Secara garis besar,
factor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam :
1). Faktor Intern siswa, yakni
hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri.
2).
Faktor ekstern siswa,
yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang dating dari luar diri siswa.
- Faktor Intern Siswa
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau
kekuran mampuan psiko-fisik siswa, yakni :
1)
Yang bersifat kognitif (ramah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas
intelektual / intelegensi siswa.
2)
Yang bersifat efektif (ramah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan
sikap.
3)
Yang bersifat psikomotor (ramah karsa), antara lain seperti terganggunya
alat-alat indera penglihatan dan pendengar (mata dan telinga)
- Faktor Ekstern Siswa
Faktor
eksern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar, yang tidak
mendukung aktifitas belajar siswa. Factor ini dibagi tiga macam :
1)
Lingkungan keluarga
2)
Lingkungan perkampungan / masyarakat
3)
Lingkungan sekolah
Selain faktor-faktor umum diatas,
ada pula faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa.
Diantara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai factor khusus ini adalah
sindrom psikologis berupa Learning disability (ketidakmampuan belajar) sindrom
(Syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indicator adanya
keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu.
1.
Disleksia (dyslexia) : ketidakmampuan belajar membaca
2.
Disgrapia (dysgraphia) : ketidakmampuan belajar menulis
3.
Diskalkulia (dyscalculia) : ketidakmampuan belajar matematika
2.
Diagnosis Kesulitan Belajar
Banyak
langkah-langkah diagnostic yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup
terkenal adalah prosedur Weener & Sent ( 1982) sebagaimana yang dikutip
Wardani (1991) sebagai berikut :
1.
Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika
mengikuti pelajaran.
2.
Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami
kesulitan belajar.
3.
Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal-hal keluarga yang
mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
4.
Memberikan tes diagnostic bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat
kesulitan belajar yang dialami siswa.
5.
Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga
mengalami kesulitan belajar.
3.
Alternatif Pemecahan Kesulitan Belajar
Sebelum
memilih alternatif tertentu guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu
melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut :
1.
Menganalisa hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan
antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan
belajar yang dihadapi siswa.
2.
Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan
perbaikan.
3.
Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran
perbaikan).
Setelah langkah-langkah
di atas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat, yaitu melaksanakan
program perbaikan
- Analisis Hasil Diagnosis
- Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah
Bidang-bidang
kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam :
1.
Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
2.
Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani guru dengan bantuan orang
lain.
- Menyusun Program Perbaikan
Dalam
hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnya guru
perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut :
1.
Tujuan pengajaran remedial
2.
Materi pengajaran remedial
3.
Metode pengajaran remedial
4.
Alokasi waktu pengajaran remedial
5.
Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial.
- Melaksanakan Program Perbaikan
Program
pengajaran remedial ini lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik.
Tempat penyelenggaraannya bisa di mana saja, asal tempat itu memungkinkan siswa
klien (siswa yang memerlukan bantuan) memusatkan perhatiannya terhadap proses
pengejaran perbaikan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar