Minggu, 19 Februari 2012

Unsur-unsur Motivasi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Berani gagal, ungkapan yang jarang kita dengar… Kegagalan adalah sukses yang tertunda, itulah yang sering kita dengar. makalah ini menyajikan pemikiran  yang dapat memotivasi diri anda untuk selalu bangkit dari kegagalan. Mungkin kami dapat menginspirasi anda untuk selalu tidak menyerah dalam menghadapi segalah masalah. Kehidupan itu seperti roda, jadi jangan pernah menyerah untuk meraih sukses anda yang tertunda. Sukses tidak hanya dilihat dari banyaknya harta tetapi dari berapa banyak usaha kita untuk mencapai kesuksesan itu.
Motivasi merupakan salah satu factor penting yang mempengaruhi belajar individu yang bagian dari sistem pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dengan komponen sistem lainnya. Tanpa adanya dorongan jiwa untuk melakukan suatu kegiatan belajar.
Dalam keadaan yang strategis, motivasi memiliki fungsi dalam dunia pendidikan;, motivasi memiliki konstribusi besar dan strategis bagi individu dalam pola mengembangkan kemampuan dan kematangan dalam menyiasati setiap permasalahan.. Sehingga ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan dalam kerangka menciptakan situasi kondusif, dinamis dan kostruktif tatanan dunia ini berlangsung secara kontinum.
 Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu Allah SWT yang menetapkan. Kita hanya punya dua kewajiban, yaitu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah Allah SWT.

B. PERUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud motivasi ?
2. Apa yang menjadi landasan Teori-Teori Tentang motivasi ?
5. Apa Unsur-Unsur yang mempengaruhi Motivasi Belajar ?
6. Bagaimana Cara meningkatkan Motivasi belajar ?
7. Tindakan apa yang harus dilakukan untuk memotivasi siswa ?
8.Bagaimana pengaplikaian Model ARCS dalam pembelajaran ?
9..Jenis dan Sifat Motivasi ?

C. TUJUAN PENULISAN MAKALAH
1. Memahami pengertian Motivasi
2. Mengetahui landasan pengembangan Motivasi
3. Menjelaskan komponen-komponen Motivasi Belajar
4.Mengetahui Unsur-Unsur yang mempengaruhi motivasi belajar
5. Menjelaskan model atau Aplikasi belajar
6.Menjelaskan cara meningkatkan motivasi belajar siswa
7. Mengetahui Tindakan untuk memotivasi siswa
8. Memahami Jenis dan Sifat Motivasi

BAB II
PEMBAHASAN

A.PENGERTIAN MOTIVASI DAN TEORI-TEORI MOTIVASI
1. Pengertian Motivasi
Motivasi merupakan salah satu factor penting yang mempengaruhi belaj dalam dunia pendidikan. akan tetapi makna secara lengkapmasih sering dikacaukan dengan istilah-istilah lain yang hamper mirip baik cara mengucapkan maupun ejaannya. Seperti motif yang terdapat dalam bidang seni lukis, yang berarti tema atau motion yang terdapat dalam bidang film yang berarti gerak.
Menurut Echols dan Shadily, motivasi dapat disamakan dengan motif. Keduanya termasuk jenis kata benda yang berarti alas an, sebab, daya batin, dorongan. Sedangkan menurut Marriam Webster berpendapat bahwa kata motif berasal dari bahasa latin :yaitu, Matus yang berarti sebagai suatu yang menyebabkan seseorang bertindak. Motifasi diartikan sebagai tindakan seseorang atau proses memberikan dorongan.
  Bruno berpendapat bahwa motif dapat disamakan dengan organism untuk menentukan suatu pilihan-pilihannyadan prilaku yang beroreantasi pada tujuan.
Sedangkan Kartono dan dali gulo berpendapat bahwa motivasi mengandung dua arti yaiti:
1.      Kontrol batiniah dari tingkah laku seperti yang dimiliki oleh kondisi-kondisi fisiologis, minat-minat, kepentingan-kepentingan, sikap dan opini.
2.      Kecendrungan organism untuk melakukan sesuatu sikap atau prilaku yang dipengaruhi oleh kebutuhan dan diarahkan kepada tujuan tertentu yang telah direncanakan.
2 .Teori-Teori Tentang Motivasi

Motivasi Merupakan salah satu cabang ilmu yang berhubungan dengan tingkah laku manusia. Tikah laku manusia yang satu berbeda dengan preode yang lain, adapun keenam teori tersebut ialah: Teori kognitif,Teori hedonisme, Teori insting, Teori psikoanalitis, Teori keseimbangan, Teori dorongan. Adapun pengertian keenam teori tersebut ialah:

a.Teori Kognitif

Menurut Ratna Willis Dahar,konsep kognitif dapat di artikan sebagai suatu proses yang mementingkan cara berpikir insight,reasoning,menggunakan logika induktif dan deduktif.Dengan demikian menurut pandangan teori kognitif,manusia adalah makhluk rasional,demikianlah pandangan dasar para penganut teori ini.Berdasarkan rasionya manusia bebas memilih dan menentukan apa yang akan dia perbuat.Tingkah laku manusia semata-mata ditentukan oleh kemampuan berpikirnya.Semakin inteligen dan berpendidikan,otomatis seseorang akan semakin baik perbuatan-perbuatannya,dan secara sadar pula akan melakukan perbuatan-perbuatan untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan tersebut.
Menurut teori ini,tingkah laku tidak di gerakan oleh apa yang disebut motivasi,melainkan oleh rasio.Setiap perbuatan yang akan dilakukannya sudah dipikirkan alasan-alasannya.Oleh karena itu setiap orang sungguh-sungguh bertanggung jawab atas segala perbuatannya.Disini tidak dikenal perbuatan-perbuatan yang berbeda diluar control rasio.
Pandangan di atas adalah pandangan para filsuf kuno seperti sokrates,plato,dan Thomas Aquinas.Bahkan pandangan ini pada masa yang silam hamper menjadi pandangan umum dikalangan masyarakat.
Didalam teori ini juga juga diletakkan pentingnya fungsi kehendak.Bahkan fungsi kehendak disejajarkan dengan fungsi berpikir dan fungsi perasaan,sejauh fungsi berpikir dapat dipertanggungjawabkan.Teori ini tidak menyadari bahwa kadang-kadang tindakan manusia itu berada diluar control rasio,sehingga sukar mempertanggungjawabkannya.Disinilah justru letak kelemahan teori ini,yaitu tidak dapat menerangkan tindakan-tindakan yang berada diluar control rasio.Apakah tindakan-tindakan semacam ini tidak termasuk dalam tingkah laku manusia?Hal ini akan terjawab bila konsep motivasi mendapat tempat dibelakang setiap tingkah laku,baik yang disadari maupun yang tidak disadari.

b.Teori Hedonisme

Teori ini mengatakan bahwa segala perbuatan manusia,entah itu disadari ataupun tidak disadari,entah itu timbul dari kekuatan luar ataupun kekuatan dalam,pada dasarnya mempunyai tujuan yang satu,yaitu mencari hal-hal yang menyakitkan.Meskipun orang dapat mengatakan berbagai macam alasan yang bagus,namun sebenarnya segala perbuatannya hanya mempunyai satu tujuan,yaitu mencari hal-hal yang menyenangka.
Teori ini sangat berpengaruh pada abad XVIII dan XIX.Para pendukung teori ini antara lain adalah John Locke.Teori ini mendapat banyak kritik dari para ahli psikologi,karena sangat menggantungkan diri pada pengalaman seseorang saja,sehingga sifatnya sangat subjektif.Sulit sekali dikatakan bahwa secara objektif tindakan seseorang itu selalu mencari hal-hal yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menyakitkan.Mungkin saja oleh seseorang suatu tindakan dipandang mencari keenakan tetapi oleh orang lain justru dipandang sebaliknya.
Dengan kata lain,teori ini dipandang kurang ilmiah karena hanya mendasarkan diri pada pengalaman subjektif manusia.Meskipun demikian diakui pula oleh umum bahwa memang banyak tindakan kita yang sangat sesuai dengan teori hedoistis ini.Oleh karena itu tidak mengherankan jika teori ini sampai saat ini pun masih mempunyai pengaruh yang besar di dalam masyarakat.
Tahun-tahun belakangan ini teori hedonistis diberi arti baru sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.Dalam hal ini,Mc.Clelland member pengertian baru dalam teori hedonistis.Adapun pokok pikirannya adalah sebagai berikut:
Semua rangsang yang terdapat di lingkungan sekitar kita pada hakikatnya menimbulkan keadaan nikmat atau keadaan sakit.Rangsang yang menimbulkan keadaan nikmat/enak menyebabkan seseorang bereaksi mendekati rangsang itu.Sebaliknya rangsang yang menimbulkan keadaan tidak enak menyebabkan reaksi menjauh.Masalah rasa enak atau tidak enak yang di alami oleh seseorang itu banyak tergantung pada adaptasi seseorang dengan rangsang yang mendahuluinya.Sebagai contoh,orang tidak akan begitu merasa terganggu dengan suara mesin yang sangat membisingkan,bila suara itu sudah biasa didengar setiap hari.Tetapi bagi orang yang belum pernah mendengarkannya,suara itu akan dirasa sangat menyakitkan.
Jika dikaitkan masalah motivasi,dapat dikatakan bahwa tindakan seseorang sangat tergantung pada antipasti/ekspektansi seseorang terhadap objek/rangsang yang dihadapinya.Antipasi yang positif terhadap rangsang akan menimbulkan reaksi mendekat,sedangkan antipasti negative terhadap suatu rangsang akan menimbulkan reaksi menjauh.Suatu objek/rangsang yang diduga akan membawa rasa nikmat/enak akan menimbulkan reaksi mendekat.
Dengan kata lain,menurut teori hedoistis yang diperbaharui ini reaksi seseorang/tingkah laku seseorang dapat dibedakan menjadi dua yaitu tingkah laku mendekati rangsang yang dirasa akan membawa keenakan dan tingkah laku menjauhi rangsang yang dirasa akan membawa rasa tidak enak.Unsur pokok motivasi adalah antipasti.Teori hedonistis ini menggunakan “affectivearousal model” yang intinya mengatakan bahwa setiap rangsang pada hakikatnya telah membawa keadaan yang menimbulkan rasa enak atau tidak enak.

c.Teori Insting

Dikatakan dalam teori ini bahwa setiap orang telah membawa “kekuatan biologis” semenjak lahirnya.Kekuatan biologis inilah yang membuat seseorang bertindak menurut cara tertentu,demikianlah dasar pemikiran teori insting.Kekuatan instingtif inilah yang seolah-olah memaksa seseorang untuk berbuat dengan cara tertentu,untuk mengadakan pendekatan kepada rangsang dengan cara tertentu.
Teori ini berkembang pesat pada waktu Darwin mencetuskan teori evolusinya.Dalam teori evolusinya Darwin mengatakan bahwa antara manusia dan binatang tidak ada perbedaan yang tajam,karena pada hakikatnya manusia merupakan hasil evolusi seperti halnya binatang,lebih-lebih binatang tingkat tinggi.Tingkah laku binatang disebut tingkah laku instingtif,karena binatang tidak mempunyai pikiran.Segala tingkah lakunya didasarkan pada kekuatan biologis yang dibawa sejak lahir.Karena manusia tidak jauh berbeda dengan binatang,maka tingkah laku manusia pun bisa disebut berdasarkan instingtif.
Teori ini sangat bertentangan dengan teori rasionalis.Kalau teori rasionalis menekankan fungsi pikiran manusia sebagai penentu tingkah laku manusia,teori instinglah menyatakan bahwa pikiran manusia pun dikuasai oleh insting,atau dengan kata lain,pikiran manusia pun dikendalikan oleh insting.
Pada umumnya para ahli psikologi dapat menerima pendapata bahwa sebagian tingkah laku manusia memang ditentukan oleh instingnya,misalnya saja tingkah laku anak yang baru saja lahir.Pada waktu anak lahir,fungsi pikiran tentu saja belum berjalan,namun anak toh berbuat sesuatu.Tingkah laku anak pada waktu itulah yang dapat dikatakan tingkah laku instingtif.

d.Teori Psikoanalitis

Teori psikoanalitis merupakan pengembangan teori insting.Dalam teori ini pun diakui adanya kekuatan bawaan didalam diri setiap manusia,dan kekuatan bawaan inilah yang menyebabkan dan mengarahkan tingkah laku manusia.Anak merasa jengkel,ia akan menggigit tangannya sendiri atau memukul kepalanya sendiri.Bukti-bukti tersebut menunjukan bahwa baik insting kehidupan maupun insting kematian telah bekerja sejak anak masih kecil.
Tingkah laku-tingkah laku yang didorong oleh kedua insting dasar tadi seringkali tidak sesuai dengan norma-norma sopan santun yang terdapat dilingkungan masyarakat.Oleh karena itu tidak jarang para orang tua memberikan larangan-larangan dan batasan-batasan terhadap beberapa tingkah laku yang sekirannya bertentangan dengan norma sopan-santun yang berlaku.
Sebagai akibat dari batasan dan larangan terhadap kebebasan berbuat atas dorongan kedua insting tersebut terbentuklah apa yang disebut kompleks terdesak,yaitu kumpulan tingkah laku yang ditekan karena tidak pantas dimunculkan.Kompleks terdesak ini tidak dapat diam begitu saja,melainkan tetap mencari kesempatan ntuk dapat muncul menjadi tingkah laku overt.Kompleks yang terdesak ini menjadi motif-motif yang tidak sadar,itulah sebabnya seringkali orang sendiri tidak dapat mengerti,mengapa ia berbuat sesuatu tindakan.Dalam hal seperti inilah kiranya motif tidak sadar sedang bekerja.
Motif-motif tidak sadar dapat menampakkan diri dalam berbagai bentuk,misalnya dalam bentuk mimpi.Pada waktu bermimpi seringkali orang merindukan sesuatu yang sebenarnya sudah dilupakan,sudah tidak disadari lagi.Motif tidak sadar dapat juga muncul dalam bentuk salah ucap(slips of speech).
Sesuatu yang kita tekan,yang tidak kita bicarakan dengan orang lain tetapi yang selalu mengganggu pikiran kita,suatu ketika dapat muncul dalam bentuk salah ucap atau salah bicara tanpa kita sadari.Kita baru sadar setelah hal itu terjadi.Ada juga beberapa symptom penyakit,terutama beberapa penyakit mental,yang kiranya disebabkan oleh adanya suatu kebutuhan dalam diri seseorang.
Freud,seseorang tokoh psikoanalitis mengatakan bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh kekuatan dasar yaitu:insting kehidupan dan insting kematian.Insting kehidupan menampakkan diri dalam tingkah laku seksual sedankan insting kematian melatarbelakangi tingkah laku-tingkah laku agresif.Insting kehidupan (Eros) mendorong orang uantuk tetap hidup dan berkembang.Sedangkan insting kematian (Thanatos) mendorong orang kea rah penghancuran diri sendiri,misalnya dalam bentuk bunuh diri,maupun penghancuran diri orang lain dalam bentuk perbuatan-perbuatan agresif.
Berdasarkan dua kekuatan dasar itu Freud membagi motif manusia menjadi dua,yaitu motif seksual dan motif menyerang.Kedua motif ini menggerakkan tingkah laku manusia sejak lahir.Misalna saja anak kecil kalau diraga pada bagian yang sensitive akan merasa senang.Juga kalau tidak dipenuhi.Kebutuhan yang mendalam dan ditekan karena merasa tidak dapat memenuhinya dapat menimbulkan suatu penyakit mental.
Pada umumnya para ahli psikologi mengaku bahwa tidak semua tingkah laku manusia itu jelas motivasinya,namun belum berani mengatakan bahwa terdapt motif yang tidak disadari.Paling-paling mereka mengatakan bahwa tingkah laku manusia yang memang kurang disadari motivasinya.Oleh karena itu kritik terhadap teori psikoanalistis ini umumnya berkisar pada keraguan bahwa mimpi,salah ucap dan lain-lain tentu sebagai akibat dari motif yang tidak disadari.

e.Teori Keseimbangan

Teori keseimbangan (Homeostatis) berpendapat bahwa tingkah laku manusia terjadi adanya ketidakseimbangan didalam diri manusia.Dengan kata lain,manusia selalu ingin mempertahankan adanya keseimbangan didalam dirinya.Sebagai contoh,orang yang lama berada dibawah terik matahari merasa panas,suhu tubuhnya naik sehingga terjadi keadaan tidak seimbang(disequilibrium) maka ia segera berjalan mencari tempat yang teduh agar suhu badan menjadi normal kembali,atau terjadi keadaan seimbang lagi.Demikian seterusnya dimana terjadi keadaan tidak seimbang didalam diri manusia,maka segeralah orang bertindak untuk mengembalikan keadaan sampai seimbang lagi.
Prinsip keseimbangan pada binatang bersifat statis,sedangkan pada manusia bersifat dinamis.Bila seekor binatang merasa lapar,yang berarti terjadi disequilibrium didalam dirinya,maka binatang tersebut segera mencari makan dan makan sampai kenyang.Sedangkan pada manusia,soalnya menjadi lain.Bila manusia lapar ia segera mencari makan.Tetapi kalau ia makan sampai kenyang,ia akan mengalami disequilibrium baru yang lebih tinggi sifatnya,misalnya lalu ingin merokok atau ingin membaca dan lain-lain.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan,bahwa tingkah laku manusia timbul karena adanya suatu kebutuhan,dan tingkah laku manusia tersebut mengarah pada pencapain tujuan yang dapat memenuhi/memuaskan kebutuhan itu.Begitu seterusnya,sehingga dapat terjadi suatu lingkaran motivasi(motivasi circle).
KEBUTUHAN      TINGKAH LAKU     TUJUAN
Kebutuhan karena adanya ketidakseimbangan didalam diri individu membuat individu yang bersangkutan melakukan sesuatu tindakan,tindakan itu mengarah pada suatu tujuan,tujuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan yang ada.Bila kebutuhan yang pertama sudah terpenuhi,akan terjadilah keadaan tidak seimbang pada taraf yang lebih tinggi,keadaan ini menimbulkan kebutuhan baru dan seterusnya,sehingga manusia boleh dikatakan tidak pernah diam.
Kebutuhan manusia secara umum dapat dibedakan menjadi dua.Yang pertama kebutuhan biologis,yang juga biasa disebut kebutuhan primer karena kebutuhan ini mutlak diperlukan agar manusia dapat hidup.Contoh kebutuhan primer ialah makan,minum,bernafas,istirahat.Yang kedua ialah kebutuhan psikologis atau sering juga disebut kebutuhan sekunder,yaitu kebutuhan yang bila dipenuhi akan menyebabkan orang menjadi lebih bahagia hidupnya.Contoh kebutuhan sekunder ialah:kasih saying,pujian,perasaan aman,kebebasan dan lain-lain.
Menutut A.H.Maslow,kebutuhan yang harus dipenuhi agar manusia dapat berkembang dengan baik adalah sebagai berikut:
1.      Kebutuhan biologis
2.      Kebutuhan akan rasa aman
3.      Kebutuhan akan cinta kasih dan rasa memiliki
4.      Kebutuhan akan penghargaan
5.      Kebutuhan untuk tahu
6.      Kebutuhan akan keindahan
7.      Kebutuhan akan kebebasan bertindak(aktualisasi diri)
f.Teori Dorongan

Teori dorongan menekankan pada hal yang mendorong terjadinya tingkah laku.Bahkan sebenarnya teori keseimbangan dasarnya adalah teori dorongan ini,dan teori keseimbangan memperkuat kebenaran teori dorongan ini.Teori dorongan diperkenalkan oleh Robert Woodworth pada tahun 1918.Pada waktu itu Woodworth mengartikan dorongan sebagai suatu tenaga dari dalam diri kita yang menyebabkan kita berbuat sesuatu.Oleh karena itu kata motif juga diberi arti dorongan yang menimbulkan dan mengarahkan tingkah laku manusia.
Dalam arti tertentu dorongan disini mirip dengan insting,misalnya saja dorongan seksual,dorongan mencari makan karena lapar dan seterusnya.Dorongan-dorongan seperti ini sifatnya asli,tidak perlu dipelajari,instingtif.Perbedaan pokok antara dorongan dan insting sering kali memang tidak jelas,namun teori dorongan ini lebih didasari oleh eksperimen-eksperimen yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan.Timbulnya dorongan,bertambah kuatnya dorongan maupun berkurangnya kekuatan dorongan dapat diukur secara objektif.Misalnya saja makin kuat dorongan seseorang untuk makan dapat diketahui dari tekanan darahnya,kuatnya dorongan seksual,dapat diketahui dari jumlah hormone seksual yang beredar dalam darah dan seterusnya.
Teori dorongan ini semakin banyak diakui setelah muncul teori homeostatis(teori keseimbangan),yang diajukan oleh ahli psikologi Walter B.Cannon pada tahun 1932.Dalam konsep pemikiran tersebut dikatakan bahwa seringkali terjadi ketidakseimbangan di dalam diri manusia.Dorongan adalah salah satu usaha (otomatis) untuk dapat mengembalikan keadaan seimbang.Teori dorongan ini pada umumnya diakui kebenarannya oleh para ahli psikologi.

B.     UNSUR-UNSUR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BELAJAR

Seperti yang telah dibicarakan didepan, bahwa motivasi dapat juga timbul melalui diri individu yang bersangkutan maupun dari orang lain atau sesuatu yang ada diluar diri individu myang bersangkutan. Motivasi itu tidak berdiri sendiri, akan tetapi dipengaruhi oleh beberapa unsure seperti :cita-cita siwa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kondisi lingkungan belajar, unsure-unsur dinamis pembelajaran, dan upaya guru dalam membelajarkan siswa. Dibawah ini uraian tentang unsure-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar :

a.       Cita-cita atau Aspirasi siswa ; cita-cita yang teleh tertanam pada diri siswa merupakan motivasi yang bermanfaat untuk meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu, guru perlu menanamkan cita-cita anak didik sejak masih ditaman kanak-kanak.
b.      Kemampuan Siswa, Menurut pembawaan nya, siswa yang stu berbeda dengan dari yang lain. Pembawaan yang berhubungan dengan pembawaan kecakapan seseorang dalam memecahkan permasalahan disebut kemampuan.
c.       Kondisi Siswa : Kondisi seseorang dapat dibedakan dalam kondisi psikis dan kondisi phisik. Kondisi psikis seperti perhatian, minat, perasaan, ingatan dan semacamnya semua itu berpengaruh terhadap motivasi dalam belajar, jika dalam keadaan normal anggota badan yang lain besar manfaatnya untuk meningkatkan motivasi beljar.
d.      Kondisi lingkungan hidup, kondisi lingkungan seperti tersedianya fasilitas belajar, lingkungan phisik dan lingkungan psikis. Besar pengaruhnya terhadap usaha peningkatan motivasi belajar. Yang dimaksud dengan fasilitas disini ialah, segala sesuatu yang secara langsung berhubungan dengan proses belajar. Seperti alat tulis, buku bacaan, media belajar, dan semacamnya.
e.       Unsur-unsur dinamis belajar. Dalam bab satu sudah dikemukakan bahwa unsur-unsur dinamis belajar meliputi motivasi, materi, alat bantu, suasana dadn pengembangan belajar, dan kondisi subyek yang balajar. Motivasi yang dating dari dalam diri siswa memang besar manfaatnya, akan tetapi jika hal tersebut tidak kunjung muncul, maka gurulah yang bertugas memunculkannya. Materi yang disajikan hendaknya disusun sedemikian urut, sehingga tidak menyebabkan siswa jemu. Alat bantu pengajaran harus diusahakan, agar tidak menimbulkan verbalisme. Namun demikian alat bantu yang terlalu banyak menyebabkan kekacauan suasana kelas, disamping guru sendiri mengalami kerepotan. Apa lagi jika ada beberapa alat bantu yang kurang mengena. Suasana pengajaran memerlukan ketrampilan tersendiri dari pihak guru. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan metoda dan strategi secara berganti-ganti, disamping guru dituntut untuk menciptakan suasana selalu segar. Dalam hubungannya dengan kondisi siswa yang belajar, guru dituntut untuk mawas. Banyak kasus yang dating dari siswa menyebabkan kelas tidak kondusuf, seperti misalnya anak yang selalu membuat gaduh, mengantuk, nakal, membadut, dan semacamnya.
f.       Upaya guru dalam membelajarkan siswa. Dalam suatu proses belajar mengajar, gurulah yang merupakan factor penggerak. Dia harus bertindak sebagai manusia yang serba bias, baik memarahi atau memuji, menghukum atau memberi hadiah, menanyai atu menunjuki, mengajak atau menyuruh, melarang atau membebaskan, dan lain-lain. Untuk mengantisipasi tugas yang begitu rumit itu, maka guru hendaknya berpegang pada hal-hal yang bersifat bijaksana. Banyak contoh mengenai kebijaksanaan, seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, Tut Wuri Handayani ; petunjuk astha bharata, dan lain-lain.
a.      Upaya meningkatkan motivasi belajar
Ada banyak upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Disini akan dibicarakan beberapa upaya, yaitu yang berhubungan dengan prinsip-prinsip belajar, unsure-unsur belajar, pemanfaatan pengalaman, dan pengembangan cita-cita.
v  Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar. Disana dikemukakan empat aliran psikologi tentang belajar, yaitu aliran Behavioristik, Kognitif, Humanistik, dan Gestalt. Masing-masing aliran ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Guru wajib mengetahui dan mengkaji semua teori itu, guna mengantisipasi anak didik yang membutuhkannya.
v  Mengoptimalkan unsure-unsur dinamis belajar. Kemampuan guru akan Nampak dalam usahanya menumbuhkan motivasi, menyajikan materi pelajaran, memilih – mengatur – menggunakan/mendemostrasikan alat bantu, mengusakan agar suasana belajar tetap kondusif, dan menangani serta mengarahkan kondisi siswa.
v  Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman. Pengajaran tidak akan berhasil baik jika tidak memanfaatkan pengalaman yang sudah dimiliki. Hal ini dapat berupa bahan apersepsi, mempermudah menjelaskan ( terutama jika bahan yang bersifat prerequisite ). Kemampuan guru untuk mengelola pengalaman awal ini sangat membantu untuk meningkatkan prestasi siswa.
v  Mengembangkan cita-cita. Cerita tentang orang-orang terkenal atau para tokoh yang berhasil, perlu dijelaskan kepada siswa guna memberikan harapan-harapan yang dapat diperoleh dengan usaha yang keras. Dengan demikian guru akan memberikan penguatan atau motivasi bagi siswa untuk belajar dan bekerja keras.

b.      Tindakan untuk memotivasi siswa
Tindakan untuk memotivasi siswa merupakan suatu proses yang sangat penting bagi individu untuk membentuk jiwa atau hasrat untuk melakukan suatu kemampuan. Adapun beberapa tindakan yang dapat memotivasi siswa diantaranya ialah
·         Terimalah siswa sebagaimana apa adanya
·         Berilah siswa kepercayaan dan bantulah mereka untuk menjadi berani ( terdorong )
·         Berilah penekanan pada hal-hal positif
·         Bantulah siswa menilai diri mereka sendiri dan kurangi persaingan ( kompetisi )
·         Libatkan siswa untuk membantu satu sama lain
C.    Model-model pengembangan aplikasi dalam pembelajaran
·         Attention ( perhatian ) pembelajaran supaya menarik perhatian siswa, dapat dilakukan dengan metode variasi, metode yang menarik, ada humor, contoh nyata, dan Tanya jawab.
·         Relevance (relevansi ) ada hubungan antara materi dengan kebutuhan dan kondisi siswa : nilai personal, nilai instrumental, nilai cultural : menjelaskan manfaat penggunaan dan kegunaan, memberikan contoh-contoh, latihan dan test
·         Confidence ( percaya diri ) merasa dirinya kompeten atau mampu adanya keberhasilan yang dicapai diantaranya : meningkatkan harapan siswa untuk berhasil, materi pelajaran disusun menjai bagian-bagian kecil, menumbuh kembangkan kepercayaan siswa.
·         Satisfaction ( kepuasan ) keberhasilan dalam mencapai tujuan akan menghasilkan kepuasan, strateginya : gunakan pujian dan umpan balik, beri kesempatan untuk mempraktekan apa yang baru dipelajari, menugasi yang mengusai untuk membantu sesame teman, suruh siswa membandingkan prestasinya dengan prestasi sebelumnya.

Adapun factor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran dapat digolongkan dalam beberapa factor antara lain :
·         Factor dari luar diri pembelajaran ( nonsosial ) : keadaan udara, suhu, cuaca (pagi, siang, sore ), tempat atau letak, gedung yang dipakai, dan alat-alat belajar.
·         Factor dari luar (social ) ; keadaan lingkungan sekitar ( ada suara gaduh, bercakap-cakap, dan sleweran ).
·         Factor fisiologis : keadaan tonus jasmani ( nutrisi, penyakit kronis, keadaan fisiologis tertentu terutama fungsi panca indra)
·         Factor ficikologis dalam belajar : adanya rasa ingin tahu,  sifat kreativ yang ingin maju, ingin mendapatkan simpati dan ingin memperbaiki kegagalan.
·         Adanya kebutuhan fisik, rasa aman, akan dicintai, kehormatan, dan aktualisasi diri.

JENIS DAN SIFAT MOTIVASI

1.Jenis Motivasi

a.Motif Primer

Motif primer atau motif biogenetis merupakan motif-motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organism demi kelanjutan atau untuk mempertahankan kehidupannya secara biologis.Motif ini bersifat universal artinya tidak terikat pada umur,jenis kelamin,suku,daerah dan lain-lain.Motif ini juga tidak terikat pada lingkungan kebudayaan tempat orang hidup dan berkembang,maka motif ini sifatnya asli dan berkembang dengan sendirinya.Semua orang mempunyai motif ini yang sama jenisnya,namun setiap manusia mempunyai reaksi yang berbeda-beda dalam menanggapi motif-motif jenis ini.
Yang termasuk dalam jenis motif ini ialah motif-motif yang berasal dari kebutuhan organism makhluk hidup dan yang bertujuan untuk pemuasan kebutuhan organism,yaitu:lapar,haus,bernafas,seks dan istirahat.
b.Motif Sekunder atau Sosiogenetis

Motif sosiogenetis berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang berada dan berkembang.Motif jenis ini timbul sebagai akibat dari interaksi social dengan orang atau hasil kebudayaan. Dengan kata lain,motif sosiogenetis tergantung pada hubungan manusia dengan lingkungannya.Karena motif ini bergantung pada lingkungan,maka motif ini sangat bervariasi.Bila ditelusuri terus sampai sedalam-dalamnya,motif sosiogenetis seringkali juga bersumber pada motif biogenetis.
Jadi memang diakui bahwa motif sosiogenetis juga mempunyai hubungan dengan motif biogenetis tetapi hubungan itu bersifat tidak langsung.
Secara garis besar motif sosiogenetis dapat dibagi menjadi dua,yaitu motif darurat dan motif objektif.Motif darurat timbul karena keadaan lingkungan sangat mendorong individu untuk mengambil tindakan darurat yang diperlukan,sedangkan motif objektif adalah motif yang diarahkan untuk dapat berhubungan dengan orang-orang atau hal-hal yang berada di dalam lingkungannya.Dapat juga dikatakan bahwa motif darurat muncul untuk mengatasi lingkungan/menaklukkan lingkungan,terutama untuk membela diri dalam keadaan darurat,sedangkan motif objektif bertujuan semata-mata untuk berhubungan dengan lingkungan dan muncul tidak dalam keadaan darurat.

1.Motif Darurat
Yang dapat digolongkan dalam motif darurat adalah sebagai berikut:
a.Motif untuk melepaskan diri dari bahaya
b.Motif untuk melawan
c.Motif untuk mengatasi rintangan
d.Motif mengejar
2.Motif objektif
a.Motif eksplorasi
b.Motif manipulasi




BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

            Motivasi merupakan sutu dorongan jiwa atau hasrat untuk melakukan kegiatan belajar, dalam mengembangkan motivasi belajar siswa harus mampu dalam melakukan pola fikir yang positif agar tercapainya cita-cita dan aprealisasi siswa dalam mencapai tujuan.
            Dalam hakikat motivasi meliputi tentang pengertian motivasi dan pentingnya tentang motivasi itu sendiri dalam upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berasal dari jiwa agar dapat berkembang dan mempunyai kemampuan dalam proses belajar.
Disamping itu juga motivasi sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan hal-hal : minat, kesadaran, semangat, keinginan, cita-cita, kesukaan, kebutuhan untuk berprestasi dan dorongan rasa ingin tahu.

















DAFTAR PUSTAKA

Davies, Ivor K.(1987).Pengelolaan Belajar : Seri Pustaka Teknologi Pendidikan Nomor 8. Jakarta : Rajawali Pers

Martin Handoko(1992) . Motivasi : Daya Penggerak Tingkah Laku . Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Nasution, S. ,(1971) . Didaktik : Azas-Azas Mengajar .  Bandung : Penerbit Jemmars

Ratna Wilis Dahar (1989) . Teori-Teori Belajar . Jakarta : Penerbit Erlangga

kesulitan dalam belajar


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Masalah

Suatu proses belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku.Berhasil tidaknya proses belajar mengajar tergantung dari faktor-faktor dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar siswa. Faktor dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar sesungguhnya banyak sekali macamnya, baik yang ada pada diri siswa sebagai pelajar,pada guru sebagai pengajar,metode mengajar,bahan materi pelajaran harus diterima siswa, maupun sarana dan prasarana.


1.2. Identifikasi Masalah

Pokok permasalahan penelitian ini adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar akuntansi. Untuk mempelajari materi akuntansi diperlukan cara dan metode belajar yang berbeda bila dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya.
Faktor kesulitan belajar yang bersumber dari siswa,misalnya motivasi, kemauan,perhatian,metode belajar yang kurang tepat,waktu belajar yang terbatas,kurangnya sumber belajar yang diperlukan.Disamping itu metode mengajar yang kurang tepat serta kurang mampunya siswa menerima materi pelajaran dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan siswa belajar akuntansi.


1.3. Perumusan Masalah

a) Faktor-faktor kesulitan apakah yang dihadapi siswa dalam belajar akuntansi.
b) Bagaimana pemecahannya agar kesulitan belajar siswa dapat di atasi.

1.4. Tujuan

Tujuan umum untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui proses belajar mengajar (siswa,guru,materi pelajaran dan fasilitas)secara tepat guna di sekolah.

1.5. Kegunaan

a) Memberi sumbangan terhadap ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan mata pelajaran akuntansi.

b) Sebagai pedoman dalam mengatasi dan menanggulangi permasalahan yang timbul dalam pengajaran akuntansi.

c) Memperbaiki proses belajar mengajar terutama pada pelajaran akuntansi sehingga dapat memperkecil kesulitan yang dihadapi siswa.























BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Kesulitan Belajar

Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlansung secara wajar. Kadang – kadang lancar, kadang – kadang tidak, kadang – kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangat tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Dalam hal dimana anak didik/ siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelgensi yang rendah (kelainan) mental akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor – faktor non intelgensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.


Macam – macam kesulitan belajar dapat dikelompokkan menjadi empat bagian :
1. dilihat dari jenis kesulitan belajar :
- ada yang berat
- ada yang sedang
2. dilihat dari bidang studi apa yang dipelajarinya :
- ada yang sebagian bidang studi dan
- ada yang keseluruhan bidang studi
3. dilihat dari sifat kesulitannya :
- ada yang sifatnya permanen/ menetap dan
- ada yang bersifat hanya sementara
4. dilihat dari faktor penyebabnya
- ada yang karena faktor intelgensi dan
- ada yang karena faktor non intelgensi

2. Faktor – Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Faktor – faktor yang menyebabkan kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu :
1) Faktor intern
a) Sebab Yang Bersifat Fisik :
1. Karena sakit
Seseorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah.
2. Karena kurang sehat
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, pikiran terganggu.
3. Sebab karena cacat tubuh
- Cacat tubuh yang bersifat ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, ganguan psikomotor.
- Cacat tubuh yang tetap seperti buta, tuli, isu, hilang tangannya dan kakinya. Bagi golongan yang serius, maka harus masuk pendidikan yang khusus seperti SLB, bisu tuli, TPAC-SROC.

b) Sebab – Sebab Kesulitan Belajar Karena Rohani :
1. Intelgensi
Anak yang IQ-nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan apa yng dihadapi.
2. Bakat
Bakat adalah potensi/ kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir
3. Minat
Tidak adanya minat seseorang anak terhadap sesuatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar.
4. Motivasi
Motivasi sebagai faktor yang inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar
5. Faktor kesehatan mental
Dalam beljar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga menyangkut segi kesehatan mental dan emosional.


6. Tipe – tipe khusus seorang pelajar
- Seorang yang bertipe visual, akan lebih cepat mempelajari bahan – bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar.
- Anak yang bertipe auditif mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara.
- Individu yang betipe motorik, mudah mempelajari yang berupa tulisan – tulisan, gerakan – gerakan dan sulit mempelajaribahan yang berupa suara dan penglihatan.

2) Faktor Orang Tua
a) Faktor Keluarga
1. Faktor Orang Tua
a. Cara mendidik anak
Orang tua yang tidak / kurang memperhatikan pendidikan anak – anaknya, mungkin acuh tak acuh, tidak memperhatikan kemajuan belajar anak –anaknya
b. Hubungan Orang Tua Dan Anak
Sifat hubungan orang tua dan anak sering dilupakan. Yang dimaksud hubungan adalah kasih sayang penuh pengertian atau kebencian, sikap keras,acuh tak acuh, memanjakan dan lain – lain.
c. Contoh / bimbingan dari orang tua
Orang tua merupakan contoh terdekat dari anak – anaknya. Segala yang diperbuat orangtua tanpa disadari akan ditiru oleh anaknya.
2. Suasana rumah / keluarga
Suasana keluarga yang sangat ramai/ gaduh, tidak mungkin anak dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu terganggu konsentrasinya, sehingga sulit untuk belajar.
3. Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam :
a. keadaan yang kurang/miskin
b. ekonomi yang berlebihan


b) Faktor Sekolah
yang dimaksud sekolah, antara lain adalah ;
1. Guru
Guru dapat menjadi sebab kesulitan belajar, apabila :
a. Guru tidak berkualtas
b. Hubungan guru dengan murid kurang baik
c. Guru – guru yang menuntut pelajaran diatas kemampuan anak
d. Guru tidak cakap dalam uasaha diagnosis kesulitan belajar
e. Metode pengajaran guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar
2. Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat pratikum..
3. Kondisi Gedung
Terutama ditujukanpada ruan kelas / ruangan tepat belajar anak.
4. Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik misalnya :
a. Bahan – bahannya terlalu tinggi
b. Pembagian pelajaan tidak seimbang
c. Adanya pendataan materi
5. Waktu sekolah dan disiplin kurang

c) Faktor Mass Media Dan Lingkungan Sosial
1. Faktor mass media meliputi : bioskop, TV, surat kabar, majalah, buku – buku komik yang ada di sekeliling kita.
2. Lingkungan sosial
a. Teman bergaul
b. Lingkungan tetangga
c. Aktivitas dalam masyarakat

3. Cara mengenal murid yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar, misalnya :
1. menunjukkan prestasi yang rendah dibawah rata –rata yang dicaai oleh kelompok kelas.
2. hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah
3. lambat dalam melakukan tugas – tugas kelas
4. menunjukkan sikap yang kurang wajar
5. menunjukkan tingkah laku yang berlainan

Dari gejala yang tampak itu, guru bisa menginterpretasi bahwa ia kemungkinan mengalami kesulitan belajar. disamping melihat gejala – gejala yang tampak, guru pun bisa mengadakan penyeledikan antara lain dengan :
1. Obsevasi : cara memperoleh data dengan lansung mengamati terhadap objek.
2. Interview : cara mendapatkan data dengan cara wawancara lansung terhadap orang yang diselidiki atau orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki.
3. Tes diagnosis : suatu cara mengumpulkan data dengan tes.
4. Dokumentasi : cara mengetahui sesuatu dengan melihat catatan – catatan, arsip – arsip, dokumen – dokumen yang berhubungan dengan orang yang diselidiki.

4. Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Langkah – langkah yang yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu :
1) Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar, diperlukan banyak informasi.
2) Pengolahan data
Data yang telah terkumpul dari kegiatan tahap pertama tersebut, tidak ada artinya jika tidak diadakan pengolahan secara cermat.
3) Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan penentuan mengenai hasil dari pengolahan data.
4) Prognosis
Prognosis artinya ramalan. Apa yang telah ditetapkan dalam tahap diagnosis, akan menjadi dasar utama dalam menyusun dan menetapkan ramalan mengenai apa yang harus diberikan kepadanya untuk membantu mengatasi masalahnya.

5) Treatment (perlakuan)
Perlakuan disini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah pada tahap prognosis tersebut.
6) Evaluasi
Evaluasi disini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yan telah diberikan diatas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan, atau bahkan gagal sama sekali.
































KESULITAN BELAJAR SISWA DAN BIMBINGAN BELAJAR
Oleh :  Akhmad Sudrajat
A. Kesulitan Belajar.
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
  1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
  2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
  3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
  4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
  5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
  1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
  2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
  5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
  6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :
  1. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
  2. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
  3. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.
1. Tujuan pendidikan
Dalam keseluruhan sistem pendidikan, tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Siswa yang dapat mencapai target tujuan-tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil. Sedangkan, apabila siswa tidak mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar. Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan pencapaian tujuan pembelajaran, maka sebelum proses belajar dimulai, tujuan harus dirumuskan secara jelas dan operasional. Selanjutnya, hasil belajar yang dicapai dijadikan sebagai tingkat pencapaian tujuan tersebut. Secara statistik, berdasarkan distribusi normal, seseorang dikatakan berhasil jika siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang harus dicapai. Namun jika menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan menggunakan penilaian acuan patokan, seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah menguasai standar minimal ketuntasan yang telah ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sebaliknya, jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka siswa tersebut dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar. Teknik yang dapat digunakan ialah dengan cara menganalisis prestasi belajar dalam bentuk nilai hasil belajar.
2. Kedudukan dalam Kelompok
Kedudukan seorang siswa dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya, rata-rata prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8, diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, nilai yang dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan.
Secara statistik, mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah mereka yang menduduki 25 % di bawah urutan kelompok, yang biasa disebut dengan lower group. Dengan teknik ini, kita mengurutkan siswa berdasarkan nilai nilai yang dicapainya. dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, sehingga siswa mendapat nomor urut prestasi (ranking). Mereka yang menduduki posisi 25 % di bawah diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Teknik lain ialah dengan membandingkan prestasi belajar setiap siswa dengan prestasi rata-rata kelompok. Siswa yang mendapat prestasi di bawah rata – rata kelompok diperkirakan pula mengalami kesulitan belajar.
3. Perbandingan antara potensi dan prestasi
Prestasi belajar yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat potensinya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dan seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Sebaliknya, siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh prestasi belajar yang rendah pula. Dengan membandingkan antara potensi dengan prestasi belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana dapat merealisasikan potensi yang dimikinya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Misalkan, seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan psikologis diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120, termasuk kategori cerdas dalam skala Simon & Binnet. Namun ternyata hasil belajarnya hanya mendapat nilai angka 6, yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. Contoh di atas menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar, yang biasa disebut dengan istilah underachiever.
4. Kepribadian
Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. Setiap proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian. Siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian tertentu, sesuai dengan tujuan yang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Siswa diakatan mengalami kesulitan belajar, apabila menunjukkan pola-pola perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya, seperti : acuh tak acuh, melalaikan tugas, sering membolos, menentang, isolated, motivasi lemah, emosi yang tidak seimbang dan sebagainya.
B. Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut
1. Identifikasi kasus
Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :
  1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.
  2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
  3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
  4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.
  5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial
2. Identifikasi Masalah
Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material; (b) struktural – fungsional; (c) behavioral; dan atau (d) personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i) keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu senggang.
3. Diagnosis
Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu : (a) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (b) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.
4. Prognosis
Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi.
5. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)
Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.
6. Evaluasi dan Follow Up
Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.
Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :
  • Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;
  • Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan
  • Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.
Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yaitu apabila:
  1. Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
  2. Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
  3. Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
  4. Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
  5. Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
  6. Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
  7. Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya
Sumber bacaan :
Abin Syamsuddin, (2003), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosda Karya
Prayitno dan Erman Anti, (1995), Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta : P2LPTK Depdikbud
Prayitno (2003), Panduan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah
Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah,(1995), Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV, Jakarta : IPBI
Winkel, W.S. (1991), Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta: Gramedia



























MASALAH KESULITAN BELAJAR
 Kesulitan Belajar dan Alternatif Pemecahannya
Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik (Academic Performance) yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa lainnya.
Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan disekolah-sekolah kita pada umumnya hanya ditunjukkan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata sehingga siswa yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian, siswa-siswa yang berkategori “diluar rata-rata” itu (sangat pintar dan sangat bodoh) tidak mendapat kesempatan yang memadahi untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Dari sini kemudian timbullah apa yang disebut kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja, tetap juga dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi.
1. Faktor-faktor kesulitan belajar
Secara garis besar, factor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam :
1). Faktor Intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri.
2). Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang dating dari luar diri siswa.
  1. Faktor Intern Siswa
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekuran mampuan psiko-fisik siswa, yakni :
1) Yang bersifat kognitif (ramah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual / intelegensi siswa.
2) Yang bersifat efektif (ramah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.
3) Yang bersifat psikomotor (ramah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengar (mata dan telinga)
  1. Faktor Ekstern Siswa
Faktor eksern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar, yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa. Factor ini dibagi tiga macam :
1) Lingkungan keluarga
2) Lingkungan perkampungan / masyarakat
3) Lingkungan sekolah
Selain faktor-faktor umum diatas, ada pula faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai factor khusus ini adalah sindrom psikologis berupa Learning disability (ketidakmampuan belajar) sindrom (Syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indicator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu.
1. Disleksia (dyslexia) : ketidakmampuan belajar membaca
2. Disgrapia (dysgraphia) : ketidakmampuan belajar menulis
3. Diskalkulia (dyscalculia) : ketidakmampuan belajar matematika
2. Diagnosis Kesulitan Belajar
Banyak langkah-langkah diagnostic yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Sent ( 1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut :
1. Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
2. Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
3. Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal-hal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
4. Memberikan tes diagnostic bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
5. Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
3. Alternatif Pemecahan Kesulitan Belajar
Sebelum memilih alternatif tertentu guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut :
1. Menganalisa hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
2. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
3. Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
Setelah langkah-langkah di atas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat, yaitu melaksanakan program perbaikan
  1. Analisis Hasil Diagnosis
  2. Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah
Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam :
1. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
2. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani guru dengan bantuan orang lain.
  1. Menyusun Program Perbaikan
Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut :
1. Tujuan pengajaran remedial
2. Materi pengajaran remedial
3. Metode pengajaran remedial
4. Alokasi waktu pengajaran remedial
5. Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial.
  1. Melaksanakan Program Perbaikan
Program pengajaran remedial ini lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik. Tempat penyelenggaraannya bisa di mana saja, asal tempat itu memungkinkan siswa klien (siswa yang memerlukan bantuan) memusatkan perhatiannya terhadap proses pengejaran perbaikan tersebut.